Suara Perempuan dari Kampung yang Dikepung Debu Batu Bara

Sumber Gambar : Walhi Sultra

Di sebuah rumah sederhana yang berdiri sekitar seratus meter dari kawasan industri dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Desa Tani Indah, Kecamatan Morosi, seorang perempuan bernama Ibu Basse (58) menjalani hari-harinya di tengah kepungan debu batu bara. Pada usia yang seharusnya diisi dengan ketenangan menikmati hasil kerja puluhan tahun, ia justru harus berhadapan dengan gangguan kesehatan, lingkungan yang berubah, serta hilangnya sumber penghidupan keluarga.

Ibu Basse telah tinggal di Morosi sejak menikah pada tahun 1993. Selama lebih dari tiga dekade, desa itu menjadi tempat ia membangun keluarga, membesarkan tiga anaknya, dan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Kini anak-anaknya telah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing, sehingga ia hanya tinggal berdua dengan suaminya.

Namun kampung yang dulu tenang kini berubah drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Morosi berkembang menjadi pusat industri pengolahan nikel. Bersamaan dengan pembangunan kawasan industri tersebut, sejumlah PLTU captive juga dibangun untuk menyuplai kebutuhan listrik bagi aktivitas smelter.

PLTU captive adalah pembangkit listrik yang dibangun khusus untuk melayani kebutuhan energi industri. Berbeda dengan PLTU yang memasok listrik untuk masyarakat umum, pembangkit jenis ini biasanya berada sangat dekat dengan kawasan industri dan beroperasi hampir tanpa henti.

Sumber Gambar: Walhi Sultra

Bagi warga desa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut, perubahan ini membawa dampak yang tidak kecil.

Di rumah Ibu Basse, perubahan itu terlihat jelas pada dinding rumahnya. Rumah papan yang dulu dicat putih kini berubah menjadi kehitaman akibat debu yang terus menempel.

Dengan nada suara yang bercampur antara heran dan marah, ia menunjuk dinding rumahnya.

“Liatmi ini dindingnya bukan putih tapi hitam,” katanya.

Debu hitam itu bukan datang sekali dua kali. Hampir setiap hari, partikel halus dari aktivitas industri dan pembakaran batu bara terbawa angin dan menempel di rumah-rumah warga.

Bagi Ibu Basse, debu itu bukan sekadar kotoran. Debu itu menjadi tanda bahwa lingkungan tempat ia membesarkan anak-anaknya telah berubah secara drastis.

Sebagai perempuan yang sehari-hari mengurus rumah tangga, ia merasakan langsung bagaimana pencemaran lingkungan memperberat pekerjaan domestik. Jika dulu pakaian bisa dipakai dua hingga tiga hari sebelum dicuci, kini ia harus mencuci setiap hari karena debu cepat menempel.

“Sekarang kalau dipakai hari ini, besoknya langsung dicuci,” katanya.

Piring yang sudah bersih pun harus dicuci kembali atau dilap sebelum digunakan karena debu hitam sering menempel. Lantai rumah disapu hingga tiga kali sehari, tetapi debu tetap kembali.

“Biar pakai masker, masuk juga debunya,” ujarnya.

Bagi perempuan di desa, perubahan lingkungan seperti ini berarti bertambahnya beban kerja domestik yang tidak terlihat. Pekerjaan rumah tangga menjadi lebih berat, sementara risiko kesehatan juga semakin meningkat.

Sumber Gambar : Walhi Sultra

Ibu Basse mengaku kini sering mengalami batuk dan iritasi mata. Kondisi matanya bahkan semakin memburuk hingga ia harus beberapa kali pergi ke kota untuk memeriksakan kesehatan matanya yang hampir tidak bisa melihat dengan jelas.

Kekhawatiran itu juga muncul ketika melihat cucunya yang masih kecil. Anak tersebut sering mengeluh sakit kepala dan hidung tersumbat ketika pulang dari sekolah.

Partikel debu batu bara diketahui mengandung material halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan manusia. Jika terpapar dalam jangka panjang, partikel tersebut dapat memicu gangguan kesehatan seperti iritasi mata, batuk kronis, hingga penyakit pernapasan.

Namun bagi warga seperti Ibu Basse, pilihan untuk menghindari paparan tersebut hampir tidak ada. Rumah mereka berada sangat dekat dengan kawasan industri, sementara aktivitas pembakaran batu bara berlangsung hampir setiap hari.

Selain kesehatan, perubahan lingkungan juga berdampak pada sumber pangan keluarga.

Dahulu, suami Ibu Basse menanam berbagai sayuran di sekitar rumah, terutama kacang-kacangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Namun sejak debu batu bara sering turun dari udara, tanaman tersebut sulit tumbuh dengan baik.

“Kacangnya bolong-bolong karena hitam menempel debu batu bara,” kata suaminya.

Daun-daun tanaman rusak dan hasil panen semakin berkurang hingga akhirnya mereka berhenti menanam sayur di halaman rumah.

Tidak hanya tanaman yang hilang, sumber pangan dari pesisir juga ikut menghilang.

Ibu Basse mengingat masa ketika ia masih sering mencari kerang kalandue di kawasan mangrove saat air laut surut. Aktivitas itu dilakukkan untuk mencari makanan, juga menjadi cara untuk menambah penghasilan keluarga.

“Dulu banyak kerang kalandue. Kita pergi mencari pagi dapat lima karung. Besoknya kita pergi lagi sudah ada pembeli beras, pembeli sabun dan segala macam,” kenangnya.

Kerang yang dikumpulkan bisa dijual atau ditukar dengan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Namun kini tempat mencari kerang itu sudah tidak ada lagi. Kawasan mangrove yang dulu menjadi ruang hidup masyarakat pesisir telah ditimbun oleh limbah padat hasil pembakaran batu bara atau bottom ash dari PLTU captive untuk pembangunan kawasan industri.

“Sekarang kita mau pergi cari tidak bisa lagi karena semua sudah ditimbun,” ujar Ibu Basse.

Penimbunan kawasan pesisir tidak hanya menghilangkan tempat mencari kerang, tetapi juga merusak ekosistem mangrove yang selama ini menjadi habitat berbagai biota laut.

Perubahan tersebut membuat ruang hidup masyarakat semakin sempit dan pilihan penghidupan semakin terbatas.

Krisis juga terjadi pada sumber air.

Sebelum kawasan industri berkembang, warga Desa Tani Indah menggunakan sumur sebagai sumber air untuk mandi, mencuci, dan memasak. Meski pada musim kemarau mereka harus menunggu air sumur naik, air itu tetap menjadi sumber kehidupan yang paling mudah diakses.

Namun sekarang sumur-sumur itu tidak lagi digunakan. Debu yang terbawa angin sering jatuh ke dalam sumur sehingga air menjadi kotor.

Sebagai alternatif, warga akhirnya memasang sambungan pipa yang mengambil air dari Sungai Motui–Konaweha. Namun sumber air ini pun tidak selalu aman.

Kadang air yang keluar dari pipa terlihat keruh bahkan kehitaman.

Ibu Basse mengaku sering mengalami gatal-gatal pada kulit setelah menggunakan air tersebut. Meski demikian, ia tidak memiliki banyak pilihan lain.

“Air galon delapan ribu satu. Kalau dipakai mandi, cuci, masak, berapami kita mau beli,” katanya.

Harga air galon yang cukup mahal bagi mereka membuat keluarga seperti Ibu Basse terpaksa tetap menggunakan air yang kualitasnya tidak menentu.

Perubahan lingkungan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga pada kondisi psikologis masyarakat.

“Dulu senangta cari uang, kita mau pergi mencari ada tempat,” kata Ibu Basse mengenang masa lalu.

Kini banyak tempat yang dulu menjadi sumber penghidupan masyarakat telah berubah menjadi kawasan industri atau tertutup oleh aktivitas pembangunan.

Selain kehilangan sumber ekonomi, masyarakat juga perlahan kehilangan tradisi yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka.

Salah satu yang diingat Ibu Basse adalah tradisi gotong royong menaikkan tanah tambak menggunakan alat tradisional yang disebut patiba.

Alat itu digunakan bersama-sama oleh warga untuk memperbaiki tanggul tambak. Aktivitas tersebut bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial bagi masyarakat pesisir.

Namun sejak banyak tambak tercemar dan tidak lagi produktif, tradisi itu hampir tidak pernah dilakukan lagi.

Kisah Ibu Basse menunjukkan bahwa di balik ekspansi industri yang masif, terdapat kehidupan masyarakat yang harus menanggung dampaknya secara langsung.

Bagi perempuan di desa, dampak tersebut sering kali berlapis: mulai dari meningkatnya beban kerja domestik, risiko kesehatan, hingga hilangnya akses terhadap sumber pangan keluarga.

Di rumah sederhana yang dindingnya kini menghitam oleh debu, Ibu Basse tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia menyapu lantai, mencuci pakaian, dan berusaha menjaga kesehatan di tengah kondisi lingkungan yang tidak lagi sama seperti dulu.

Namun kisahnya menjadi pengingat bahwa pembangunan industri seharusnya tidak mengorbankan ruang hidup masyarakat.

Lingkungan yang bersih, udara yang sehat, dan akses terhadap sumber penghidupan bukanlah kemewahan. Semua itu adalah hak dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Suara perempuan seperti Ibu Basse dari Desa Tani Indah menunjukkan bahwa dampak pembangunan tidak hanya terlihat dari angka produksi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana masyarakat di sekitarnya harus berjuang mempertahankan kehidupan mereka di tengah perubahan yang begitu cepat.

Ekspansi Industri dan Penyempitan Ruang Hidup Masyarakat

Kisah yang dialami Ibu Basse bukanlah cerita tunggal. Ia mencerminkan situasi yang semakin banyak terjadi di berbagai wilayah yang menjadi pusat ekspansi industri ekstraktif di Indonesia. Pembangunan kawasan industri berbasis pengolahan sumber daya alam termasuk industri nikel sering kali dipromosikan sebagai simbol kemajuan ekonomi dan modernisasi daerah. Namun di balik narasi pembangunan tersebut, terdapat realitas lain yang jarang terlihat: menyempitnya ruang hidup masyarakat lokal.

Di Morosi, ekspansi industri tidak hanya menghadirkan bangunan smelter dan cerobong PLTU captive, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap struktur ekologis wilayah pesisir. Mangrove yang sebelumnya menjadi ruang hidup masyarakat perlahan hilang akibat penimbunan kawasan pesisir. Tambak yang dahulu menjadi sumber penghidupan kini banyak yang tercemar atau tidak lagi produktif. Tanaman yang sebelumnya tumbuh di halaman rumah warga kini sulit berkembang karena paparan debu batu bara yang terus turun dari udara.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas industri tidak berdiri sendiri, melainkan memicu rangkaian dampak ekologis yang saling berkaitan. Ketika ekosistem pesisir rusak, sumber pangan masyarakat ikut hilang. Ketika kualitas udara menurun, kesehatan masyarakat ikut terancam. Dan ketika sumber air tercemar, warga terpaksa mencari alternatif yang sering kali lebih mahal dan tidak selalu aman.

Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri berada pada posisi paling rentan dalam menanggung dampak dari aktivitas pembangunan.

Perempuan di Garis Depan Dampak Lingkungan

Pengalaman Ibu Basse juga memperlihatkan bagaimana dampak kerusakan lingkungan sering kali dirasakan secara berbeda oleh perempuan.

Sebagai pengelola utama rumah tangga, perempuan berada di garis depan dalam memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. Ketika lingkungan tercemar, perempuan harus menghadapi beban kerja domestik yang semakin berat mulai dari membersihkan rumah yang terus dipenuhi debu, mencuci pakaian lebih sering, hingga memastikan makanan dan air yang digunakan keluarga tetap aman.

Dalam konteks ini, kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga persoalan keadilan sosial dan gender. Beban tambahan yang muncul akibat pencemaran sering kali tidak terlihat, tetapi secara nyata meningkatkan tekanan fisik dan psikologis bagi perempuan di desa.

Di sisi lain, hilangnya sumber pangan alami seperti kerang di kawasan mangrove juga berdampak langsung pada kemampuan perempuan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Ketika akses terhadap sumber pangan lokal hilang, rumah tangga menjadi semakin bergantung pada pasar, yang berarti kebutuhan uang tunai juga meningkat.

Pembangunan yang Mengabaikan Hak atas Lingkungan Hidup

DCIM\100MEDIA\DJI_0300.JPG

Kondisi yang dialami masyarakat di Desa Tani Indah menunjukkan adanya ketimpangan dalam model pembangunan yang berlangsung saat ini. Kawasan industri berkembang pesat untuk mendukung produksi dan hilirisasi sumber daya alam, tetapi perlindungan terhadap lingkungan hidup dan masyarakat di sekitarnya sering kali tidak menjadi prioritas utama.

Padahal, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak dasar setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi. Negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa aktivitas pembangunan tidak merusak lingkungan dan tidak mengorbankan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Namun dalam praktiknya, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri justru sering menjadi pihak yang paling menanggung risiko pencemaran udara, kerusakan ekosistem, hingga krisis sumber air.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan justru akan memperdalam ketidakadilan ekologis. Masyarakat lokal kehilangan ruang hidup dan sumber penghidupan, sementara keuntungan ekonomi dari aktivitas industri lebih banyak dinikmati oleh pihak lain.

Mendengar Suara dari Kampung

Kisah Ibu Basse dari Desa Tani Indah menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak seharusnya mengorbankan kehidupan masyarakat yang telah lama hidup dan bergantung pada lingkungan sekitarnya.

Cerita tentang dinding rumah yang menghitam oleh debu batu bara, tambak yang tidak lagi produktif, mangrove yang ditimbun, hingga air yang semakin sulit diakses adalah gambaran nyata dari dampak pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

Suara-suara seperti yang disampaikan Ibu Basse perlu didengar dan menjadi bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan pembangunan. Tanpa itu, pembangunan berisiko terus berjalan dengan mengabaikan pengalaman hidup masyarakat yang berada paling dekat dengan dampaknya.

Melindungi ruang hidup masyarakat bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga soal memastikan bahwa keadilan sosial dan hak-hak dasar warga tetap dihormati.

Tim Lapangan WALHI Sulawesi Tenggara – Aditya, Rasman, Aksa

Penulis:

Fitra Wahyuni & Gian Purnama Sari,

Bagikan Sosial Media

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *